areaseoku's Blog

Alasan Kenapa Kuliah Tak Akan Otomatis Membuat Masa Depanmu Cerah

[url=https://www.pmbuntar.com/universitas-swasta-terbaik-di-jakarta/]Universitas Swasta Terbaik di Jakarta[/url] - Dahulu, banyak orang percaya bahwa gelar sarjana adalah kunci untuk masa depan yang cerah. Orang tua rela membayar biaya kuliah yang mahal demi kesempatan kerja yang lebih terbuka bagi anaknya. Masih relevankah pemikiran ini sekarang?

Sayangnya, sekarang gelar sarjana saja tak lagi cukup untuk membuat masa depanmu sejahtera. Jika kamu berniat jadi sarjana hanya supaya punya gaji tinggi, siap-siap saja kecewa.

Kenapa sih di era ini kuliah tidak bisa lagi disebut sebagai investasi masa depan? Simak ulasan [url=https://www.pmbuntar.com/biaya-kuliah-perguruan-tinggi/]Perguruan Tinggi[/url] berikut ini, yuk!

1. Di zaman orangtua, kuliah adalah satu-satunya jalan untuk menambah ilmu selepas SMA. Berbeda dengan kita, yang punya internet untuk belajar apa saja.

Di zaman orangtua kita, pergi kuliah adalah satu-satunya cara untuk menambah ilmu setelah lulus SMA. Memang, di bangku universitaslah kita diajarkan untuk berpikir dan berargumen, menulis dan mengkritik. Teori-teori dasar yang sudah kita terima di bangku XI dan XII SMA pun diolah secara lebih dalam.

Kini kita tak perlu status sebagai mahasiswa resmi sebuah universitas untuk menambah ilmu yang kita dapat di SMA. Teknologi yang serba digital saat ini memang memudahkan kita mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia. Berbekal perangkat laptop dan koneksi internet, kita bisa asyik berselancar di dunia maya; membaca berita, berbisnis, hingga kuliah online.

Yup, tercatat ada puluhan [url=https://universitas.webflow.io]Universitas Swasta Terbaik di Jakarta[/url] top dunia yang saat ini mengijinkan materi-materi perkuliahan mereka diakses gratis. Mereka menyediakan kumpulan jurnal, video perkuliahan, hingga forum-forum diskusi yang terbuka untuk umum. Mudah saja, cukup klik Coursera dan kamu tinggal memilih materi dari kampus yang kamu inginkan. Sekolah musik Berklee, kampus teknologi MIT, Harvard, hingga layanan kursus coding online seperti Codecademy atau Code School tersedia di sini.

2. Gelar sarjana juga tak akan mengantarmu pada gaji besar jika kamu tak punya pengalaman kerja.

Masih banyak dari kita yang percaya bahwa sarjana [url=http://memoryband.org/baby/BBS/home.php?mod=space&uid=4214732]http://memoryband.org/baby/BBS/home.php?mod=space&uid=4214732[/url] sudah pasti dapat pekerjaan yang layak dengan mudah. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2014 mencatat jumlah sarjana yang menganggur mencapai 400 ribu orang atau 4,3% dari total pengangguran yang tercatat sebanyak 7,2 juta orang.

Status sarjanamu pun tak akan otomatis membuatmu bisa punya pekerjaan bergaji besar. Mungkin kamu malah akan kaget karena gaji pertamamu sama jumlahnya dengan uang bulanan kiriman orang tua saat kamu masih kuliah dulu.

Ya, kamu boleh jadi punya titel sarjana [url=https://muabs.com/profile/universitasswasta/]https://muabs.com/profile/universitasswasta/[/url]. Tapi kamu belum tentu punya pengalaman kerja. Sementara, sebagian besar perusahaan akan menganggapmu masih hijau atau anak kemarin sore ketika kamu sama sekali belum pernah bersentuhan dengan dunia profesional. Kamu masih punya jalan yang panjang dan terjal sebelum bisa meraih kemapanan.

3. Kamu pun harus menunggu lama supaya biaya besar [url=https://slides.com/universitas]https://slides.com/universitas[/url] yang sudah orang tuamu keluarkan bisa balik modal.

Kenapa bisa muncul istilah “investasi” yang dikaitkan dengan urusan pendidikan? Yup, alasannya tak lain tentu soal uang. Meskipun kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, banyak orang akan memilih mengusahakannya. Mereka akan berpikir;

“Ah, nggak apa-apa. Anggap saja sebagai modal. Nanti setelah lulus, dapat pekerjaan dan gaji tinggi, pasti bisa balik modal…”

Sayangnya, kondisi perekonomian yang terus bergejolak semacam menyajikan fakta pahit. Pertambahan jumlah pencari kerja tak sebanding dengan pertambahan lapangan pekerjaan. Akibatnya, untuk satu lowongan pekerjaan saja bisa diperebutkan puluhan orang. Belum lagi standar gaji yang berlaku di negeri kita masih rancu. Jika hanya mengacu pada UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Pasal 90 ayat (1), yang berbunyi;

“Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum”

Must be logged in to comment.